Dolar Keok di Asia, Rupiah Menguat Jadi Rp14.853 per Dolar AS

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Selasa, 9 Agustus 2022 | 16:35 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah kembali menang melawan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada penutupan transaksi, Selasa (9/8) sore. Mata uang Garuda hari ini menguat 23 poin atau 0,16 persen menjadi Rp14.853 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp14.876 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga menang melawan dolar AS, kecuali peso Filipina yang melemah 0,12 persen, rupee India anjlok 0,52 persen, dan yuan China turun 0,05 persen. Sementara yen Jepang naik 0,07 persen, dolar Hong Kong stagnan, dolar Singapura naik 0,05 persen, dolar Taiwan naik 0,03 persen, krown Korea menguat 0,15 persen, ringgit Malaysia naik 0,03 persen, dan baht Thailand perkasa 0,76 persen.

Analis pasar uang PT Laba Forexindo, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan sejumlah mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, terjadi di saat dolar AS menguat setelah para pedagang menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. “Data inflasi AS akan menjadi landasan bagi bank sentral AS, Federal Reserve, menaikkan bunga acuan atau sebaliknya,” katanya. 

Ibrahim menambahkan, pasar juga menantikan data CPI bulan Juli yang akan dirilis hari ini waktu AS. Survei Fed New York menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen turun tajam pada bulan Juli, mungkin mengurangi beberapa tekanan ke atas pada suku bunga dari angka pekerjaan yang kuat minggu lalu.

Baca Juga: Dolar Keok di Asia, Rupiah Menguat Jadi Rp14.853 per Dolar AS
Akhir Pekan Rupiah Perkasa Jadi Rp14.894 per Dolar AS

“Pasar uang berjangka menunjukkan pedagang melihat sekitar dua pertiga peluang kenaikan 75 bp bulan depan dan telah mulai mendorong ekspektasi untuk penurunan suku bunga kembali, lebih dalam ke tahun 2023,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyatakan pasar memperhatikan pengelolaan utang Indonesia yang masih terkendali. “Hingga saat ini utang Indonesia masih dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal,” pungkasnya.

Video Terkait