Wabah COVID-19 dan Krisis Properti Memperlambat Ekonomi Cina

Ilustrasi pekerja. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Senin, 15 Agustus 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Ekonomi Cina dilaporkan melambat secara tidak terduga pada Juli. Aktivitas pabrik dan ritel ditekan oleh kebijakan 'nol-Covid' dan krisis properti. Sementara bank sentral mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga pinjaman utama untuk menghidupkan kembali permintaan.

Mengutip Reuters, Senin (15/8/2022), output industri Juli tumbuh 3,8 persen dari tahun sebelumnya, kemudian sedikit turun dari 3,9 persen pada Juni, data dari Biro Statistik Nasional (NBS). Angka tersebut jauh dari yang diharapkan yaitu 4,6 persen.

Penjualan ritel, yang ada perubahan positif pada Juni, naik 2,7 persen dari tahun lalu. Kemudian meleset dari perkiraan analis untuk pertumbuhan 5 persen dan justru harus puas dengan peningkatan 3,1 persen pada Juni.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu nyaris lolos dari kontraksi ekonomi pada kuartal Juni, tertatih-tatih oleh lockdown di Shanghai. Banyak kota di Cina, termasuk pusat manufaktur dan tempat wisata populer, memberlakukan tindakan lockdown pada Juli setelah wabah baru varian Omicron ditemukan.

Hal tersebut ditambah dengan penurunan yang semakin dalam di pasar properti dan belanja konsumen yang terus-menerus melemah.

"Risiko stagflasi dalam ekonomi dunia meningkat dan fondasi untuk pemulihan ekonomi domestik belum solid," kata NBS dalam sebuah pernyataan.

Sektor properti, yang semakin diguncang oleh boikot hipotek yang membebani sentimen pembeli, memburuk ekonomi Cina. Investasi properti turun 12,3 persen pada Juli 2022, sementara penurunan penjualan semakin dalam menjadi 28,9 persen.

Pembuat kebijakan Cina mencoba menyeimbangkan menopang pemulihan yang rapuh dan memberantas klaster COVID-19. Ekonomi Cina diperkirakan akan kehilangan target pertumbuhan resminya untuk pertama kalinya sejak 2015.

Baca Juga: Wabah COVID-19 dan Krisis Properti Memperlambat Ekonomi Cina
Rupiah Selasa Ini Berpotensi Menguat

“Semua data ekonomi mengecewakan di bulan Juli, kecuali ekspor. Permintaan pinjaman dari ekonomi riil tetap lemah, menunjukkan prospek yang hati-hati untuk beberapa bulan ke depan,” kata Nie Wen, ekonom yang berbasis di Shanghai di Hwabao Trust.

Situasi ketenagakerjaan di Cina juga rapuh. Tingkat pengangguran berbasis survei nasional sedikit menurun menjadi 5,4 persen pada Juli dari 5,5 persen pada Juni, Meski demikian pengangguran kaum muda tetap tinggi, mencapai rekor 19,9 persen pada Juli.