Ekonomi Dunia Kian Suram, Risiko Pandemi Bergeser Jadi Gejolak Ekonomi

Ilustrasi SPBU BBM. (Sariagri/Antara)

Editor: Yoyok - Selasa, 6 September 2022 | 14:30 WIB

Sariagri - Prospek ekonomi dunia masih suram. Sebab, usai diguncang pandemi Covid-19, dunia kini dibayangi berbagai krisis mulai dari krisis pangan, krisis energi hingga krisis utang. 

“Ancaman besar tersebut semakin menekan ekonomi dunia yang seharusnya melesat setelah pandemi reda,” ujar Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, Masyita Crystallin dalam Webinar ISEI Jakarta, awal pekan ini.

Masyita mengungkapkan risiko pandemi telah bergeser menjadi gejolak ekonomi. Hal ini ditandai dengan inflasi global yang melonjak, pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga, potensi krisis utang global dan potensi stagflasi.

Akibat hal ini, proyeksi pertumbuhan ekonomi global terkoreksi cukup dalam. IMF memangkas proyeksi ekonomi global sebesar 0,4 persen tahun ini dan 0,7 persen pada tahun depan. Ekonomi global diperkirakan hanya akan tumbuh 3,2 persen tahun ini dan 2,9 persen pada tahun depan.

"Jika dibandingkan dengan negara berkembang, revisi forecastnya lebih dalam di negara maju karena memang negara maju secara umum lebih sensitif perekonomiannya terhadap ekonomi global," kata Masyita.

Baca Juga: Ekonomi Dunia Kian Suram, Risiko Pandemi Bergeser Jadi Gejolak Ekonomi
BI Ungkap Sejumlah Bank Sentral Masih Agresif Sampai Akhir Tahun

Kepala Ekonom Bank Central Asia, David E Sumual, menambahkan risiko yang membayangi ekonomi global ke depannya masih berasal dari perang Rusia dan Ukraina. David melihat harga komoditas tetap tinggi, meskipun beberapa harga barang mulai melandai, kecuali batu bara dan gas yang masih tinggi.

"Batu bara dan gas ini menjadi tantangan, dimana kelihatannya terkait dengan konflik yang masih terjadi, dimana Eropa masih meningkat ekspornya untuk gas dan batu bara," paparnya.

Video Terkait