Sebagian Mata Uang Asia Terkoreksi, Rupiah Turun Jadi Rp14.984 per Dolar AS

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Selasa, 20 September 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Nilai tukar mata uang di kawasan Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup bervariatif pada perdagangan Selasa (20/9) sore. Dolar sendiri melemah terhadap mata uang rivalnya akibat kurangnya arah yang jelas di pasar global dan meningkatnya kehati-hatian menjelang rapat kebijakan bank sentral AS, Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (21/9).

Hilangnya sejumlah momentum imbal hasil AS juga menyertai penurunan dolar yang lambat karena pelaku pasar tampaknya telah sepenuhnya memperhitungkan besaran kenaikan suku bunga oleh Fed, besok. 

Hingga pukul 15.00 WIB, nilai tukar di Asia yang mengalami penurunan adalah yen Jepang anjlok 0,25 persen, dolar Hong Kong stagnan, dolar Singapura turun 0,08 persen, peso Filipina melemah 0,12 persen, yuan China melemah 0,09 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,14 persen.

Sedangkan mata uang yang mengalami kenaikan, di antaranya baht Thailand naik 0,05 persen, dolar Taiwan menguat, 0,17 persen, dan krown Korea menguat 0,27 persen, rupee India naik 0,08 persen. Sementara rupiah melemah 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp14.984 per dolar AS.

Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, pelemahan tipis rupiah terhadap dolar AS hari ini disebabkan pasar masih menantikan kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, terutama dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2022. 

"Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan menimbulkan beberapa implikasi, seperti inflasi meski sifatnya temporer, serta resistensi dan pro kontra dari masyarakat terhadap kebijakan baru," ujarnya.

Menurutnya, ruang diskresi terkait defisit pada APBN 2022 dan kondisi APBN semester pertama  2022 yang surplus juga menjadi semakin menguatkan bahwa momentum reformasi kebijakan subsidi merupakan keputusan tepat pada tahun ini. Dengan demikian, jika terjadi risiko akibat reformasi tersebut masih dapat diredam dengan fleksibilitas APBN.

Selain itu, survei pemantauan harga yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada minggu III September 2022 menunjukkan, perkembangan inflasi sampai dengan minggu ketiga September 2022 diperkirakan inflasi sebesar 1,09 persen (mtm).  Sedangkan penyumbang inflasi  yaitu bensin sebesar 0,91 persen (mtm), angkutan dalam kota sebesar 0,04 persen (mtm).

Baca Juga: Sebagian Mata Uang Asia Terkoreksi, Rupiah Turun Jadi Rp14.984 per Dolar AS
Mata Uang di Asia Berguguran, Rupiah Jadi Rp14.883 per Dolar AS

Kemudian, angkutan antar kota, telur ayam ras, dan beras masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), serta rokok kretek filter dan bahan bakar rumah tangga (BBRT) masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).  

Ke depan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dan terus mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.

Video Terkait