Rupiah Rabu Siang Tembus Rp15 Ribu per Dolar AS, Pasar Tunggu Kebijakan Fed

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Rabu, 21 September 2022 | 11:30 WIB

Sariagri -  

Bloomberg pada pukul 10.00 WIB mencatat mata uang yen Jepang turun 0,07 persen, dolar Hong Kong stagnan, dolar Singapura turun 0,11 persen, dolar Taiwan turun 0,09 persen, krown Korea anjlok 0,35 persen. Kemudian, peso Filipina ambyar 0,71 persen, rupee India tergerus 0,08 persen, yuan China anjlok 0,37 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,16 persen, dan baht Thailand menyusut 0,30 persen. 

Rupiah sendiri tergerus 29 poin atau 0,19 persen menjadi Rp15.012 per dolar AS. Rabu pagi, saat dibuka rupiah melemah 24 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp15.008 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.984 per dolar AS.

Analis PT Sinarmas Futures, Ariston Tjendra, mengatakan menurunnya mayoritas mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, disebabkan pelaku pasar menunggu pernyataan Gubernur The Fed soal kebijakan moneter ke depan.

Ada indikasi the Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan atau mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi hingga inflasi AS turun ke level target 2 persen.

"Kebijakan pengetatan moneter AS ini mendorong penguatan dolar AS," ujar Ariston.

Para pelaku pasar menilai langkah agresif The Fed dalam menurunkan suku bunga acuan akan berlanjut pada bulan ini. Kebijakan moneter tersebut akan diumumkan pada setelah pertemuan (FOMC) yang dilaksanakan pada 20-21 September 2022.

Baca Juga: Rupiah Rabu Siang Tembus Rp15 Ribu per Dolar AS, Pasar Tunggu Kebijakan Fed
Akhir Pekan, Dolar Keok di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp14.830 per Dolar AS

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 75 bp menjadi 3,00 persen - 3,25 persen adalah 76,0 persen. Sementara peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 bp menjadi 3,25 persen - 3,50 persen adalah 24 persen.

Kenaikan suku bunga yang agresif tak lepas dari rilis inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi pada Agustus 2022. Laporan indeks harga konsumen (CPI) Agustus menunjukkan angka inflasi tahunan sebesar 8,3 persen year-on-year/yoy, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 8,1 persen yoy. Sementara secara bulanan naik 0,1 persen month-to-month/mtm.

Video Terkait