Mayoritas Mata Uang di Asia Tersungkur, Rupiah Jadi Rp15.037 per Dolar AS

Ilustrasi mata uang rupiah terhadap dolar AS (Foto Antara)

Editor: Yoyok - Jumat, 23 September 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Mata uang di kawasan Asia secara luas tersungkur terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (23/9) sore karena didukung sikap Federal Reserve yang hawkish, tetapi peso Filipina dan krown Korea mampu bertahan di zona apresiasi.

Bloomberg akhir pekan ini, hingga pukul 15.30 WIB, mencatat yen Jepang turun 0.01 persen, dolar Hong Kong stagnan, dolar Singapura melemah 0,27 persen, dolar Taiwan anjlok 0,37 persen, rupee India tergerus 0,12 persen, yuan China terkoreksi 0,43 persen, ringgit Malaysia melemah 0,27 persen, dan baht Thailand turun 0,11 persen. Sedangkan rupiah melemah 14 poin atau 0,10 persen menjadi Rp15.037 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen kurang direspons pasar. “Namun, BI optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh di kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen dengan kecenderungan ke atas. Perbaikan ekonomi nasional terus berlanjut dengan semakin membaiknya permintaan domestik dan tetap positifnya kinerja ekspor,” ujar Ibrahim. 

Baca Juga: Mayoritas Mata Uang di Asia Tersungkur, Rupiah Jadi Rp15.037 per Dolar AS
Besok, Rupiah Bakal Melemah, Bisa Bertengger di Atas Rp15 Ribu Dolar AS

Sedangkan dari luar negeri, Ibrahim menyebut dolar AS melonjak terhadap yen setelah proyeksi suku bunga hawkish Federal Reserve kontras dengan sikap dovish Bank of Japan.

“Selain itu, pasar mengkhawatirkan kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin Rabu tentang mobilisasi sebagian dari cadangan militer negara yang berkekuatan 2 juta orang sehingga menaikkan suhu politik di wilayah tersebut,” ujarnya.

Video Terkait