Inggris Lolos dari Jurang Resesi, Ekonomi Kuartal II/2022 Tumbuh 0,2 Persen

Orang-orang berjalan melewati Cineworld di Leicester's Square di London, Inggris, beberapa waktu lalu. (Dok Reuters)

Editor: Yoyok - Jumat, 30 September 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Ekonomi Inggris lolos dari jurang resesi setelah pada kuartal II/2022 mencatatkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 0,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq). Angka ini melampaui proyeksi analis yang memperkirakan kontraksi 0,1 persen. 

Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) Inggris pada Jumat (30/9) melaporkan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), PDB Inggris tumbuh 4,6 persen, melampaui proyeksi analis yang memperkirakan kontraksi 4,1 persen. Selain itu, Inggris juga mencatat penurunan defisit neraca transaksi berjalan menjadi 33,8 miliar poundsterling (sekitar 37,6 miliar dolar AS) pada kuartal II/2022. 

Adanya pertumbuhan PDB kuartal II/2022 berarti ekonomi sedang tidak dalam resesi teknis, seperti yang diperkirakan banyak orang. Namun, kontraksi kemungkinan akan dimulai pada kuartal III/2022 ketika output diperkirakan melemah menyusul hari libur ekstra untuk pemakaman Ratu Elizabeth, dan penurunan lebih lanjut kemungkinan terjadi dalam dua kuartal berikutnya

Berita itu akan disambut baik oleh pemerintah yang telah terpukul oleh pelemahan poundsterling dan krisis keuangan sejak pengumuman rencana pemangkasan pajak oleh pemerintahan Perdana Menteri, Liz Truss. 

"Meskipun ada berita yang lebih baik tentang kinerja ekonomi di triwulan ke-2, gambaran keseluruhannya adalah bahwa ekonomi berada dalam kondisi yang lebih buruk dari yang kita duga sebelumnya," kata Paul Dales, Ekonom Capital Economics.

"Dan itu sebelum hambatan penuh dari lonjakan inflasi dan lompatan biaya pinjaman terasa."

Data terpisah menunjukkan harga rumah Inggris gagal naik secara bulanan untuk pertama kalinya sejak Juli 2021, tanda terbaru dari perlambatan pasar yang disebabkan oleh tekanan biaya hidup dan kenaikan suku bunga.

Menteri keuangan baru Inggris Kwasi Kwarteng pekan lalu menerbitkan rencana ekonomi yang katanya akan memacu pertumbuhan dengan memotong pajak. Tetapi investor merespons dengan menjual pound dan obligasi pemerintah Inggris.

Baca Juga: Inggris Lolos dari Jurang Resesi, Ekonomi Kuartal II/2022 Tumbuh 0,2 Persen
Bank Dunia Ubah Perhitungan, 13 Juta Orang Kelas Menengah RI Jatuh Miskin

Samuel Tombs, kepala ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics, mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan pada kemampuan ekonomi untuk tumbuh oleh Covid-19 dan Brexit bahkan lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Revisi ini akan memaksa Kantor Pertanggungjawaban Anggaran atau Office for Budget Responsibility (OBR) untuk merevisi lebih lanjut perkiraannya untuk PDB potensial di masa depan," katanya.

Video Terkait