Konsumsi Pemerintah Turun, Hambat Laju Pertumbuhan

Editor: Yoyok - Selasa, 8 November 2022 | 18:45 WIB
Sariagri - Konsumsi pemerintah pada tahun ini berada di zona merah. Terbukti, pada kuartal II-2022, konsumsi pemerintah mengalami kontraksi -5,24 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sementara pada kuartal I-2022 tercatat kontraksi sebesar -7,74 persen yoy.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman mengatakan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk belanja barang dan jasa hingga September 2022 turun dibandingkan dengan tahun 2021.
Untuk itu, Rizal menilai bahwa konsumsi pemerintah tidak menjadi gas pertumbuhan namun justru menjadi rem. Hingga September 2022, realisasi sangat rendah yakni 61,61 persen atau lebih rendah dari September 2021 yang sebesar 65,7 persen .
"Ini bukan mengegas malah mengerem dan ternyata ini berada di zona merah terus atau negatif terus," ujar Rizal dalam keterangan pers Indef: Waspada Perlambatan Ekonomi Akhir Tahun, Selasa (8/11/2022).
Rizal mengatakan bahwa peran APBN sebagai shock absorber dalam mempertahankan stabilitas dan pemulihan percepatan pertumbuhan ekonomi pasca pandemi harus dioptimalkan, khususnya realisasi alokasi anggaran Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) untuk kesehatan, perlindungan sosial, dan pemulihan ekonomi di kuartal IV-2022.
"Selama ini konsumsi pemerintah pada saat merealisasikan APBN terutama untuk belanja barang dan jasa ternyata semakin menurun," katanya.
Selain itu, penyerapan juga perlu ditingkatkan hingga mencapai 100 persen dengan akurasi sasaran yang membaik khususnya bantuan sosial dan perlindungan sosial terhadap masyarakat kelas bawah dan menengah yang mengalami tekanan inflasi.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2022 mencapai 5,72 persen secara yoy.
Pencapaian kinerja pertumbuhan di kuartal III-2022 menunjukkan perekonomian Indonesia kian menguat dan menuju ke arah pemulihan.
Hanya saja konsumsi pemerintah di kuartal III-2022 mengalami kontraksi -2,88 persen secara tahunan (yoy). Padahal, konsumsi pemerintah menjadi salah satu sebagai penyumbang utama yang memberikan andil 7,57 persen kepada Produk Domestik Bruto.
"Pertumbuhan di seluruh komponen pengeluaran menunjukkan pertumbuhan, kecuali konsumsi pemerintah kontraksi 2,88 persen ," ujar Kepala BPS Margo Yuwono, Senin (7/11/2022).
Baca Juga: Konsumsi Pemerintah Turun, Hambat Laju PertumbuhanGlobal Tak Menentu, BPS: Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal III Naik
Margo mengatakan, penurunan konsumsi pemerintah tersebut lantaran turunnya realisasi belanja barang dan jasa di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (PNBP).
Hanya saja, hal tersebut tidak terlalu menghambat pertumbuhan ekonomi karena memberikan andil terbesar keempat kepada Produk Domestik Bruto (PDB).