Akhir Pekan, Dolar Tersungkur di Asia, Rupiah Kembali di Bawah Rp15.500

Ilustrasi - Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Antarafoto/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa)

Editor: Yoyok - Jumat, 11 November 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di pasar spot pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (11/11) sore. Hari ini, mata uang Garuda seolah membayar kekhawatiran dua pekan terakhir dengan menanjak 1,26 persen atau 199 poin menjadi Rp15.495 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.694 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas mata uang di kawasan Asia menang melawan dolar AS, kecuali yen Jepang yang melemah 0,28 persen. Sementara dolar Hong Kong naik 0,06 persen, dolar Singapura menguat 0,25 persen, dolar Taiwan perkasa 1,94 persen, krown Korsel perkasa 4,27 persen, peso Filipina menanjak 1,58 persen.

Kemudian, rupee India menguat 1,15 persen, yuan China menanjak 0,94 persen, ringgit Malaysia perkasa 1,61 persen, dan baht Thailand naik 0,37 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar AS merosot setelah data menunjukkan inflasi AS mereda lebih dari yang diharapkan. “Imbal hasil Treasury juga turun karena investor memposisikan diri untuk kenaikan suku bunga yang lebih kecil oleh Federal Reserve pada Desember mendatang,” kata Ibrahim.

Ibrahim mengatakan penurunan inflasi AS pada Oktober dibandingkan bulan sebelumnya menandakan kebijakan Fed menaikkan bunga acuan telah memberikan efek. Namun, tingkat inflasi masih jauh di atas target sehingga Fed masih akan mengeluarkan kebijakan moneter ketat.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut optimistis pemerintah terkait laju pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0-5,3 persen memberikan dampak positif bagi pasar. 

Baca Juga: Akhir Pekan, Dolar Tersungkur di Asia, Rupiah Kembali di Bawah Rp15.500
Rupiah Kian Melemah Jadi Rp15.623 per Dolar AS

“Optimis tersebut karena ada landasan objektifnya, yakni berbagai indikator ekonomi makro yang terus menguat, implementasi berbagai kebijakan yang cukup efektif untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, pengelolaan APBN yang pruden, responsif dan efektif sebagai instrumen countercyclical sekaligus sebagai peredam gejolak, sehingga keberlanjutan pemulihan ekonomi nasional dapat terus dijaga,” papar Ibrahim.

Selain itu, Intervensi kebijakan Pemerintah dilakukan baik dari sisi supply melalui berbagai insentif fiskal dan dukungan pembiayaan, bersinergi dengan otoritas moneter dan sektor keuangan, maupun dari sisi demand untuk mendukung daya beli masyarakat baik dalam bentuk berbagai program bansos, subsidi maupun pengendalian inflasi.