Mata Uang Asia Terseret Rudal Rusia, Rupiah Jadi Rp15.600 per Dolar

Ilustrasi - Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Antarafoto/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa)

Editor: Yoyok - Rabu, 16 November 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Mayoritas mata uang di kawasan Asia terkapar menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan hari ini, Rabu (16/11). Hingga pukul 15.00 WIB, hanya dolar Singapura yang menguat 0,21 persen dan ringgit Malaysia yang menanjak 0,23 persen.

Sementara yen Jepang turun 0,09 persen, dolar Hong Kong turun 0,04 persen, dolar Taiwan melemah 0,26 persen, krown Korsel anjlok 0,60 persen. Kemudian, peso Filipina melemah 0,22 persen, rupee India melemah 0,18 persen, dan yuan China anjlok 0,40 persen.

Rupiah sendiri melemah 62 poin atau 0,40 persen menjadi Rp15.600 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.538 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan melemahnya mayoritas mata uang di Asia karena terseret penguatan dolar AS setelah sejumlah investor melepas aset berisiko akibat khawatir ketegangan geopolitik usai rudal buatan Rusia meledak di perbatasan Polandia.

"Pasar sedikit terhibur karena Presiden AS Joe Biden menyatakan rudal tersebut kemungkinan tidak dilepaskan dari Rusia," ujar Ibrahim.

Sekalipun demikian, sebagian negara-negara anggota NATO yang sedang berkonferensi G20 di Bali sempat melakukan pertemuan darurat membahas rudal buatan Rusia itu. Polandia adalah anggota NATO.

Menurut pejabat AS, temuan awal menunjukkan bahwa rudal yang menghantam Polandia ditembakkan oleh pasukan Ukraina ke arah rudal Rusia yang masuk. Rusia menyangkal bertanggung jawab atas ledakan itu.

Baca Juga: Mata Uang Asia Terseret Rudal Rusia, Rupiah Jadi Rp15.600 per Dolar
Mata Uang Asia Berguguran, Rupiah Jadi Rp15.601 per Dolar AS

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pelaku pasar terus memantau perkembangan Rancangan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) turunan dari Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja  yang memiliki nilai strategis dan penting untuk proses pembangunan Indonesia yang berkelanjutan, adil, dan berdaya saing. 

“Sektor keuangan yang kuat sangat penting dan strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk untuk meningkatkan perekonomian Indonesia menjadi negara maju menuju tingkat pendapatan tinggi adil dan merata,” katanya.