Awal Pekan Mata Uang Asia Tersungkur, Rupiah Kian Lemah Jadi Rp15.713/Dolar

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Senin, 21 November 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Mayoritas mata uang di kawasan Asia tersungkur menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan hari ini, Senin (21/11) sore. 

Hingga pukul 15.00 WIB, hanya dolar Hong Kong yang terpantau menguat 0,16 persen. Sementara ye Jepang anjlok 0,51 persen, dolar Singapura melemah 0,26 persen, dolar Taiwan melemah 0,22 persen, won Korsel ambles 1,12 persen.

Kemudian, peso Filipina melemah 0,17 persen, rupee India melemah 0,11 persen, yuan China anjlok 0,63 persen, ringgit Malaysia melemah 0,47 persen, dan baht Thailand ambyar 1,01 persen.

Rupiah sendiri melemah 29 poin atau 0,18 persen menjadi Rp15.713 dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu Rp15.684 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar menguat pada perdagangan awal pekan ini karena sentimen memburuk oleh meningkatnya kasus Covid dan pengetatan pembatasan di beberapa kota di ekonomi terbesar kedua di dunia, China.

Baca Juga: Awal Pekan Mata Uang Asia Tersungkur, Rupiah Kian Lemah Jadi Rp15.713/Dolar
Rupiah Berakhir Pekan dengan Melemah Jadi Rp15.684 per Dolar AS

Selain itu, kekhawatiran akan potensi krisis nuklir dalam konflik Rusia-Ukraina, di tengah penembakan gencar pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina, juga mendorong aliran safe haven ke dalam dolar. “Prospek dolar juga terangkat oleh sinyal hawkish dari pejabat Federal Reserve pekan lalu,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, saat ini investor tertarik dengan risalah pertemuan November bank sentral AS, the Fed yang akan dirilis pada Rabu mendatang. “Risalah Fed menjadi petunjuk tentang bagaimana pejabat tinggi pada akhirnya berharap untuk menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim.

Video Terkait