Mata Uang Asia Manfaatkan Penurunan Dolar, Rupiah Naik Jadi Rp15.696

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Selasa, 22 November 2022 | 15:45 WIB

Sariagri - Sebagian mata uang di kawasan memanfaatkan penurunan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan hari ini, Selasa (22/11) sore. Hingga pukul 15.15 WIB, hanya dolar Hong Kong yang melemah 0,16 persen, won Korsel melemah 0,13 persen, dan peso Filipina turun 0,08 persen.

Sedangkan yen Jepang menguat 0,21 persen, dolar Singapura naik 0,04 persen, dolar Taiwan naik 0,09 persen, rupee India menguat 0,17 persen, yuan China menguat 0,20 persen, ringgit Malaysia naik 0,15 persen, dan bath Thailand menanjak 0,43 persen.

Mata uang Garuda hari ini mengakhiri pelemahan selama sepekan dengan menguat 16 poin atau 0,10 persen menjadi Rp15.696 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.712 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi dolar AS hari ini melemah namun tetap tinggi setelah reli semalam yang membuat investor berbondong-bondong ke mata uang safe-haven di tengah kekhawatiran atas gejolak Covid China.  “Namun, sentimen risiko yang berhati-hati membuat greenback tetap didukung,” katanya.

Ibrahim mengungkapkan pasar sedang mempertimbangkan pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve AS, salah satunya Presiden Fed St Louis, James Bullard yang mengatakan bahwa zona suku bunga acuan yang sesuai adalah di antara 5-7 persen, lebih tinggi dari antisipasi pasar

Baca Juga: Mata Uang Asia Manfaatkan Penurunan Dolar, Rupiah Naik Jadi Rp15.696
Awal Pekan Mata Uang Asia Tersungkur, Rupiah Kian Lemah Jadi Rp15.713/Dolar

Sementara itu, Presiden Fed Minnesota Neil Kashkari mengatakan bahwa data satu bulan tidak dapat meyakinkan The Fed secara berlebihan, karena bank sentral harus terus menjalankan kebijakannya sampai mereka yakin bahwa inflasi telah berhenti naik.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pasar terus mencerna pernyataan Bank Indonesia (BI) yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat disertai dengan tingginya tekanan inflasi, agresifnya kenaikan suku bunga acuan di negara maju, serta berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan.

Video Terkait