Gubernur BI Ungkap Ancaman Reflasi, Menkeu: Kita Tetap Harus Waspada

Tangkapan layar Menkeu Sri Mulyani saat membuka Pertemuan Ke-4 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) di Washington DC, AS, Rabu (12/10/2022) malam atau Kamis (13/10/2022) pagi.

Editor: Yoyok - Rabu, 23 November 2022 | 13:15 WIB

Sariagri - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (22/11/2022), mengungkap adanya ancaman baru bagi perekonomian dunia pada tahun depan, yaitu reflasi. 

Reflasi diartikan sebagai kondisi adanya risiko resesi disertai dengan tingkat inflasi yang tinggi. “Ada risiko stagflasi, pertumbuhan stagnan atau menurun, bahkan inflasi tinggi. Sekarang istilahnya reflasi, risiko resesi dan tinggi inflasi,” kata Perry. 

Menanggapi pernyataan Gubernur BI tentang ancaman reflasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan selalu mewaspadai berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi, seperti perang di Ukraina.

"Jadi untuk 2023 kewaspadaan ini menggambarkan risiko yang berasal dari global akan cukup memengaruhi kinerja kita. Kalau dari sisi proyeksi (pertumbuhan ekonomi) kami tetap pakai UU APBN yang asumsinya di 5,3 persen," ujar Sri Mulyani di Gedung Kementerian Keuangan Jakarta, Rabu (23/11).

Ia menjelaskan bahwa kata waspada yang digunakan itu bisa menggambarkan downside risk muncul sangat kuat.

"Seberapa (besar) downside risk ini, nanti akan dilihat sampe akhir tahun ini. Jadi (akan dilihat) kalau pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun dan bagaimana dampak serta perkembangan dari perang memengaruhi faktor-faktor pertumbuhan kita," jelasnya.

Sri Mulyani menjelaskan dasar kewaspadaan yang diterapkan, salah satunya adalah lingkungan ekonomi global sedang muram. Tidak hanya faktor perang di Ukraina, namun juga Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang masih ketat dalam menerapkan kebijakan Covid.

"Ini juga memengaruhi kondisi ekonomi global. Jadi kami sampaikan waspada. Karena faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan momentum pemulihan ekonomi Indonesia bisa dipengaruhi oleh faktor global," ucap Sri Mulyani.

Menkeu kemudian masih optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia 2023 mendatang. Pasalnya, momentum pemulihan ekonomi masih berlangsung baik hingga kuartal tiga berakhir.

Baca Juga: Gubernur BI Ungkap Ancaman Reflasi, Menkeu: Kita Tetap Harus Waspada
Apa Benar Indonesia Kebal Resesi dan Krisis?

Termasuk pula pertumbuhan dalam industri manufaktur yang terus meningkat, begitu juga di sektor perdagangan, pertambangan, serta pertanian masih terhitung baik.

"Jasa-jasa yang selama ini kena dampak pandemi mulai bangkit, seperti transportasi, akomodasi, restoran hotel itu mulai balik. Ini yang menggambarkan bahwa momentum pemulihan ekonomi Indonesia sampai kuartal tiga dan kuartal empat masih terjaga kuat," tegasnya.

Video Terkait