Pasar Tunggu Risalah The Fed, Rupiah Naik Tipis Jadi Rp15.687 per Dolar

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Rabu, 23 November 2022 | 17:45 WIB

Sariagri - Nilai tukar mata uang di kawasan Asia bervariatif menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada sore ini, Rabu (23/11/2022). 

Hingga pukul 15.00 WIB, yen Jepang melemah 0,03 persen, dolar Singapura anjlok 0,32 persen, rupee India melemah 0,15 persen, yuan China tergerus 0,14 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,19 persen.

Sementara dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Taiwan stagnan, won Korsel menguat 0,34 persen, peso Filipina perkasa 0,72 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,10 persen.

Rupiah sendiri menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp15.687 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.696 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pada hari ini indeks dolar melemah karena investor meredam selera risiko menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve. 

“Pasar hari ini menunggu risalah pertemuan the Fed yang akan menjadi petunjuk tentang prospek inflasi dan suku bunga. Pasar juga mencermati meningkatnya kasus Covid-19 di China dan pengenalan pembatasan baru,” katanya,

Baca Juga: Pasar Tunggu Risalah The Fed, Rupiah Naik Tipis Jadi Rp15.687 per Dolar
Mata Uang Asia Manfaatkan Penurunan Dolar, Rupiah Naik Jadi Rp15.696

Ibrahim menambahkan prospek ekonomi yang dikeluarkan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menjadi sentimen negatif karena memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global turun dari 3,1 persen tahun ini menjadi 2,2  persen pada 2023.

Oleh karena itu, pemerintah harus tetap waspada dan mencari jalan keluar terbaik guna untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonominya di atas 5 persen, apalagi permintaan komoditas di negara eropa di tahun 2023 kemungkinan akan berkurang sehingga butuh strategi baru untuk menahan inflasi yang kemungkinan masih tinggi.

Video Terkait