Hore! Dolar Terkapar di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp15.665 per Dolar AS

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Kamis, 24 November 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Semua nilai tukar mata uang di kawasan Asia menang melawan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada perdagangan sore ini, Kamis (24/11/2022). Hingga pukul 15.00 WIB, yen Jepang menguat 0,47 persen, dolar Hong Kong naik 0,10 persen, dolar Singapura naik 0,17 persen, dolar Taiwan menanjak 0,67 persen, won Korsel perkasa 1,76 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,32 persen, rupee India naik 0,14 persen, yuan China naik 0,16 persen, ringgit Malaysia perkasa 1,77 persen, dan baht Thailand menguat 0,37 persen. 

Sementara rupiah ditutup menguat 22 poin atau 0,14 persen menjadi Rp15.665 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.687 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan indeks dolar AS secara luas melemah pada hari ini karena investor bertaruh pada aset berisiko akibat didorong oleh prospek laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat dari Federal Reserve.

“Risalah the Fed menunjukkan para pejabat bank sentral AS sebagian besar puas bahwa mereka sekarang dapat bergerak dalam langkah-langkah yang lebih kecil,” ujar Ibrahim.

Namun, data harga konsumen AS yang sedikit lebih dingin dari perkiraan telah memicu harapan akan laju kenaikan yang lebih moderat. Harapan itu telah membuat indeks dolar merosot 5,1 persen pada November atau menempatkannya di jalur kinerja bulanan terburuk dalam 12 tahun.

Baca Juga: Hore! Dolar Terkapar di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp15.665 per Dolar AS
Mata Uang Asia Manfaatkan Penurunan Dolar, Rupiah Naik Jadi Rp15.696

Risalah the Fed juga menunjukkan perdebatan yang muncul di dalam Fed mengenai risiko bahwa pengetatan kebijakan yang cepat dapat menimbulkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan mengakui hanya ada sedikit kemajuan yang dapat dibuktikan pada inflasi dan bahwa suku bunga masih perlu dinaikkan.

Selain itu, meningkatnya kasus virus corona telah menyebabkan kota-kota China memberlakukan lebih banyak pembatasan sehingga meningkatkan kekhawatiran investor tentang ekonomi dan membatasi selera risiko. Selain itu, pasar AS akan ditutup pada Kamis waktu AS untuk Thanksgiving dan likuiditas kemungkinan akan lebih tipis dari biasanya.

Video Terkait