Investor Khawatirkan Demo di China, Rupiah Anjlok Jadi Rp15.723 per Dolar

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Senin, 28 November 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Nilai tukar mata di kawasan Asia bervariatif menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada awal pekan ini, Senin (28/11/2022) sore. Hingga pukul 15.00 WIB, sejumlah kurs menang melawan dolar AS, seperti yen Jepang menguat 0,75 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, peso Filipina naik 0,05 persen, ringgit Malaysia naik 0,10 persen, dan baht Thailand menguat 0,14 persen.

Sementara dolar Singapura turun 0,01 persen, dolar Taiwan tergerus 0,48 persen, won Korsel anjlok 1,23 persen, rupee India turun 0,02 persen, dan yuan China tergerus 0,49 persen. Rupiah sendiri melemah 50 poin atau 0,32 persen menjadi Rp15.723 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu Rp15.673 per dolar AS. Saat Senin pagi, rupiah dibuka melemah 55 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp15.728 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan sejumlah mata uang di Asia, termasuk rupiah karena terseret kekhawatiran investor atas gejolak massa di China efek dari pengekangan sosial untuk pengendalian Covid-19. 

"Perkembangan terbaru di China telah menghentikan penurunan dolar AS, yang telah melemah selama beberapa minggu terakhir di tengah harapan bahwa Federal Reserve akan segera memperlambat laju kenaikan suku bunganya, sebuah pandangan yang didukung oleh risalah pertemuan November yang dirilis pekan lalu," ujar Ibrahim.

Ketua Fed Jerome Powell akan berbicara tentang prospek ekonomi AS dan pasar tenaga kerja di acara Brookings Institution pada Rabu mendatang, yang kemungkinan akan memberikan lebih banyak petunjuk tentang prospek kebijakan moneter AS.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut optimistis Indonesia jauh dari risiko resesi di tahun 2023, karena  ketergantungan Indonesia kepada luar negeri relatif kecil. "Itu terbukti dari ekspor dan impor rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan ketergantungan pada investasi asing juga rendah," kata Ibrahim.

Baca Juga: Investor Khawatirkan Demo di China, Rupiah Anjlok Jadi Rp15.723 per Dolar
Hore! Dolar Terkapar di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp15.665 per Dolar AS

Dengan optimisme ekonomi yang membaik, pasar keuangan Indonesia kembali bergairah. Pasalnya investor asing kembali menempatkan dananya di Tanah Air. Berdasarkan data transaksi 21-24 November 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik terjadi inflow sebesar Rp11,71 triliun.

Dengan kondisi tersebut, selama tahun 2022, berdasarkan data setelmen hingga. 24 November 2022, nonresiden jual neto Rp165,71 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp75,40 triliun di pasar saham. Sementara itu, premi CDS Indonesia 5 tahun turun ke 98,52 bps per 24 November 2022 dari 108,61 bps per 18 November 2022. “Hal ini mengindikasikan risiko berinvestasi di Indonesia mengalami penurunan,” pungkas Ibrahim.