Rupiah Selasa Sore Kian Tertekan Jadi Rp15.743 per Dolar AS

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Selasa, 29 November 2022 | 16:00 WIB

Sariagri - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan di pasar spot pada Selasa (29/11) sore melemah 21 poin atau 0,13 persen menjadi Rp15.743 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.722 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mata uang rupee India juga melemah 0,05 persen dan ringgit Malaysia anjlok 0,69 persen.

Sementara yen Jepang menguat 0,47 persen, dolar Hong Kong naik 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,38 persen, dolar Taiwan menguat 0,26 persen, won Korsel perkasa 1,02 persen, peso Filipina naik 0,10 persen, yuan China menguat 0,59 persen, dan baht Thailand perkasa 0,70 persen.

Sebelumnya, pengamat pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah masih berpeluang tertekan hari ini terhadap dolar AS. 

Ariston menyampaikan beberapa faktor atau sentimen yang masih menekan rupiah, salah satunya demonstrasi besar-besaran di China yang bisa mengganggu perekonomian negara itu dan berdampak negatif ke perekonomian negara lain yang terkait erat dengan perekonomian China.

"Selain itu kebijakan suku bunga tinggi The Fed untuk menekan turun inflasi AS, memicu penguatan dolar AS," ujar Ariston.

Presiden The Fed St Louis, James Bullard, mengatakan pada Senin (28/11) bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga sedikit lebih jauh untuk mendapatkan kendali inflasi dan menurunkan kembali menuju target bank sentral 2 persen.

Dalam sebuah wawancara dengan MarketWatch, Bullard mengatakan pasar keuangan meremehkan kemungkinan pembuat kebijakan perlu lebih agresif tahun depan dalam menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi.

Baca Juga: Rupiah Selasa Sore Kian Tertekan Jadi Rp15.743 per Dolar AS
Hore! Dolar Terkapar di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp15.665 per Dolar AS

Di tempat lain Presiden The Fed New York John Williams mengatakan dalam pidatonya di Economic Club of New York bahwa para pejabat memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengekang inflasi yang masih terlalu tinggi.

Sementara itu pelemahan rupiah juga dipengaruhi permintaan dolar AS yang biasanya tinggi menjelang akhir tahun untuk kegiatan korporasi seperti pembayaran utang.

"Permintaan yang tinggi sementara suplai tidak bertambah bisa mendorong penguatan dolar AS," kata Ariston.