Dolar Turun Saat China Akan Longgarkan Lockdown, Rupiah Jadi Rp15.731/USD

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Rabu, 30 November 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Mayoritas nilai tukar mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di pasar spot pada perdagangan akhir bulan ini, Rabu (30/11/2022). 

Hingga pukul 15.00 WIB hanya yen Jepang yang turun 0,06 persen, sementara dolar Hong Kong naik 0,09 persen, dolar Singapura menguat 0,22 persen, dolar Taiwan menguat 0,32 persen, won Korsel perkasa 0,65 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,13 persen, rupee India menguat 0,30 persen, yuan China menguat 0,22 persen, ringgit Malaysia perkasa 0,99 persen, dan baht Thailand menanjak 0,68 persen. 

Rupiah sendiri menguat tipis 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp15.731 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.742 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan mayoritas mata uang di Asia, termasuk rupiah disebabkan terseret sentimen positif pasar atas rencana China melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat atau lockdown Covid-19. 

“Indeks dolar turun setelah China berencana melonggarkan pembatasan wabah Covid-19. Namun, pergerakan dolar juga redam menjelang pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell,” kata Ibrahim.

Powell diperkirakan akan memberikan lebih banyak isyarat tentang ekonomi AS dan jalur kebijakan moneter untuk sisa tahun ini ketika dia berbicara di sebuah acara di Washington di kemudian hari. Pasar juga menunggu data payrolls utama AS akhir pekan ini.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pemulihan ekonomi di Indonesia sudah mulai berjalan. Hal ini, dilihat dari mobilitas masyarakat yang memicu perputaran roda perekonomian Indonesia. Kegiatan perekonomian di Indonesia bisa bertahan dengan baik jika protokol kesehatan terjaga.

"Saat ini kegiatan keramaian yang bisa mendorong perputaran perekonomian bisa berjalan. Daya beli masyarakat saat ini masih terjaga di tengah ancaman inflasi. Karena masih banyak kegiatan didatangi masyarakat yang dengan itu menimbulkan kegiatan ekonomi," katanya.

Kemudian, perekonomian Indonesia sudah berjalan ke arah yang positif. Hal itu dapat dilihat dari kedigdayaan perekonomian Indonesia, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal Ketiga 2022 ini, berhasil mengalami peningkatan hingga 5,7 persen.

Baca Juga: Dolar Turun Saat China Akan Longgarkan Lockdown, Rupiah Jadi Rp15.731/USD
Hore! Dolar Terkapar di Asia, Rupiah Naik Jadi Rp15.665 per Dolar AS

Namun, agar masyarakat tetap waspada terhadap inflasi, maka optimisme masyarakat serta kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi tantangan global, merupakan kunci untuk dapat bertahan di tengah ketidakpastian global.  

Oleh karena itu, dengan melihat kondisi perekonomian saat ini, pemerintah merasa optimis bahwa pertumbuhan ekonomi di Kuartal Keempat 2022 masih akan terus membaik walaupun di bawah 5,7 persen. Salah satu penggeraknya adalah Natal dan Tahun Baru 2023 yang akan membawa berkah tersendiri karena aktivitas masyarakat akan meningkat sehingga akan berpengaruh terhadap menggeliatnya konsumsi masyarakat.