Hebat, Rupiah Berakhir Pekan Menguat Jadi Rp15.426 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Jumat, 2 Desember 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (2/12/2022) sore, menguat 137 poin atau 0,88 persen menjadi Rp15.426 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.563 per dolar AS.

Hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia juga menguat terhadap dolar AS, kecuali dolar Hong Kong turun 0,01 persen dan won Korsel turun 0,06 persen. Sementara yen Jepang menguat 0,51 persen, dolar Singapura naik 0,13 persen, dolar Taiwan menguat 0,30 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,82 persen, rupee India naik 0,03 persen, yuan China menguat 0,18 persen, ringgit Malaysia menguat 0,27 persen, dan baht Thailand menguat 0,18 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar merespons positif laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang inflasi November 2022 yang mencapai 5,42 persen (YoY). Inflasi lebih rendah dibandingkan pada Oktober yang tercatat 5,71 persen. Secara tahun kalender inflasi mencapai 4,82 persen dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya 0,09 persen

Sementara itu, pemerintah terus meyakinkan pasar bahwa  perekonomian nasional saat ini dalam tren positif dan masih tumbuh kuat. “Dengan kemampuan itu, optimisme proses pemulihan ekonomi terus terjaga. Meski begitu, pemerintah perlu tetap waspada terhadap ancaman risiko global,” ujar ibrahim.

Baca Juga: Hebat, Rupiah Berakhir Pekan Menguat Jadi Rp15.426 per Dolar AS
Rupiah Selasa Sore Kian Tertekan Jadi Rp15.743 per Dolar AS

Sedangkan dari eksternal, Ibrahim menyebut kehati-hatian muncul menjelang data upah i AS yang kemungkinan akan mempengaruhi kebijakan moneter, meskipun sinyal dovish dari bank sentral AS, Federal Reserve mendorong dolar ke level terendah tiga bulan.

“Data upah AS diharapkan bisa menunjukkan bahwa pasar pekerjaan negara itu sedikit mendingin di bulan November. The Fed juga menargetkan pendinginan di pasar tenaga kerja sebagai bagian dari langkah-langkahnya terhadap inflasi tahun ini,” pungkas Ibrahim.