Rupiah Berakhir Pekan dengan Menguat Tajam Jadi Rp15.149 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Jumat, 13 Januari 2023 | 17:00 WIB

Sariagri - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan di pasar spot pada Jumat (13/1/2023) sore menguat tajam 190 poin atau 1,24 persen menjadi Rp15.149 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.339 per dolar AS.

Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Revandra Aritama menyatakan rupiah berhasil melanjutkan penguatan didorong oleh laporan inflasi AS yang turun ke level 6,5 persen. 

“Hal ini menguatkan sentimen pengenduran suku bunga The Fed," katanya.

Diketahui, Inflasi AS pada Desember 2022 melambat menjadi 6,5 persen (yoy) dari bulan sebelumnya 7,1 persen (yoy). Perlambatan itu sesuai dengan ekspektasi pasar. Selain itu inflasi inti juga melambat menjadi 5,7 persen (yoy) dibandingkan sebelumnya 6 persen (yoy).

Sementara Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas, Lionel Priyadi dalam kajiannya mengatakan di satu sisi perlambatan tersebut menumbuhkan optimisme investor terhadap potensi pembalikan arah kebijakan The Fed dari saat ini akan mempertahankan suku bunga di 5,25 persen hingga awal 2024 menjadi pemangkasan suku bunga mulai kuartal IV 2023.

Akan tetapi di sisi lain investor khawatir perlambatan tersebut dapat kehilangan momentum karena inflasi sektor jasa yang masih tinggi.

"Secara keseluruhan kami melihat perlambatan inflasi sebagai momentum bagi The Fed untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga menjadi 25 bps pada 1 Februari mendatang dari 50 bps pada Desember 2022," ujar Lionel.

Sementara itu inflasi China pada Desember 2022 naik menjadi 1,8 persen (yoy) dari bulan sebelumnya 1,6 persen (yoy). Inflasi PPI China tercatat berbalik menjadi nol persen dari sebelumnya deflasi 0,2 persen (yoy).

Menurut Lionel, naiknya tingkat inflasi di China merupakan pertanda positif bagi perekonomian negara yang sedang mengalami transisi hidup bersama Covid-19 dari sebelumnya menerapkan penguncian atau lockdown ketat.

Akan tetapi pernyataan dari pejabat-pejabat WTO mengenai under counting tingkat kematian akibat Covid-19 di China berpotensi mempersulit prediksi kapan proses transisi hidup bersama Covid-19 di China akan berakhir.

Baca Juga: Rupiah Berakhir Pekan dengan Menguat Tajam Jadi Rp15.149 per Dolar AS
Rupiah Kian Terpuruk, Rabu Sore Anjlok Jadi Rp15.719 per Dolar AS

Selain itu tindakan retaliasi Pemerintah China kepada Jepang dan Korea Selatan karena mewajibkan tes Covid-19 negatif bagi pelancong dari China yang akan masuk ke kedua negara tersebut, berpotensi meningkatkan risiko bagi investor dan pebisnis asing yang berinvestasi di China.

"Kami berpandangan arus masuk modal ke China masih akan didominasi oleh para investor China yang sebelumnya mengalihkan kekayaan mereka ke Singapura. Investor asing masih akan bersikap hati-hati menyikapi peluang di China," kata Lionel.