Rupiah Awal Pekan Paling Perkasa di Asia Jadi Rp15.045 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Senin, 16 Januari 2023 | 17:30 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan di pasar spot pada awal pekan ini, Senin (16/1) sore, menguat 104 poin atau 0,68 persen menjadi Rp15.045 dibandingkan posisi akhir pekan lalu Rp15.149 per dolar AS.

Hingga pukul 15.00 WIB, rupiah menjadi mata uang paling perkasa di kawasan Asia, sementara won Korsel hanya menguat 0,45 persen, peso Filipina menguat 0,55 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,37 persen.

Sedangkan yen Jepang melemah 0,41 persen, dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dolar Singapura turun 0,06 persen, dolar Taiwan turun 0,01 persen, rupee India melemah 0,32 persen, yuan China tergerus 0,33 persen, dan baht Thailand melemah 0,31 persen.

Analis pasar uang PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan sejumlah mata uang di Asia disebabkan indeks dolar melemah karena imbas prospek kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari Federal Reserve dan spekulasi atas langkah hawkish Bank of Japan. 

Ibrahim menambahkan data menunjukkan bahwa harga konsumen AS turun untuk pertama kali dalam lebih dari 2,5 tahun di bulan Desember. “Angka inflasi itu menunjukkan tanda-tanda pendinginan dan investor semakin yakin bahwa the Fed akan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga serta tidak akan setinggi yang dikhawatirkan sebelumnya,” ujar Ibrahim.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut laporan Badan Pusat Statistik tentang neraca perdagangan yang surplus 54,46 miliar dolar AS atau Rp816,9 triliun merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Surplusnya Neraca Perdagangan tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan capaian surplus sepanjang 2021 yang tercatat sebesar 35,34 miliar dolar AS. 

Secara bersamaan, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai 392,6 miliar dolar AS pada November 2022. Nilai tersebut meningkat jika dibandingkan dengan posisi pada Oktober 2022 yang tercatat sebesar 390,2 miliar dolar AS. 

Baca Juga: Rupiah Awal Pekan Paling Perkasa di Asia Jadi Rp15.045 per Dolar AS
Rupiah Berakhir Pekan dengan Menguat Tajam Jadi Rp15.149 per Dolar AS

Jika dibandingkan dengan November 2021, posisi ULN Indonesia mengalami kontraksi sebesar 5,6 persen persen (yoy), melanjutkan kontraksi pada bulan sebelumnya yang sebesar 7,6 persen yoy. Posisi ULN Pemerintah pada November 2022 tercatat sebesar 181,6 miliar dolar AS, mengalami kontraksi 10,2 persen yoy, lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 12,3 persen yoy. 

Perkembangan ULN tersebut disebabkan oleh sentimen positif kepercayaan pelaku pasar global yang tetap terjaga sehingga mendorong investor asing kembali menempatkan investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik.