Dolar Kembali Bangkit di Asia, Rupiah Anjlok Jadi Rp15.165 per Dolar AS

Ilustrasi dolar. (Foto: Unsplash)

Editor: Yoyok - Selasa, 17 Januari 2023 | 16:30 WIB

Sariagri - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali bangkit menaklukan mata uang di Asia pada perdagangan di pasar spot, hari ini. Rupiah yang dalam beberapa hari ini perkasa, pada Selasa (17/1/2023) sore anjlok 120 poin atau 0,80 persen menjadi Rp15.165 dibandingkan posisi sehari sebelumnya Rp15.045 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia kalah melawan dolar AS, di antaranya  yen Jepang turun 0,05 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, dolar Hong Kong turun 0,09 persen, dolar Taiwan turun 0,06 persen.

Kemudian, won Korsel melemah 0,25 persen, peso Filipina melemah 0,45 persen, rupee India melemah 0,17 persen, yuan China melemah 0,44 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,25 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan kejatuhan mata uang di Asia disebabkan terseret sentimen negatif kekhawatiran baru tentang resesi global dan yuan yang berkinerja terburuk karena data menunjukkan pertumbuhan ekonomi China terpukul oleh penguncian Covid pada tahun 2022 dan investor menahan napas untuk potensi perubahan kebijakan di Bank of Japan.

Menurut Ibrahim, kekhawatiran akan resesi global yang diperkuat oleh survei Forum Ekonomi Dunia yang menunjukkan bahwa dua pertiga dari para ekonom yang disurvei memperkirakan resesi tahun ini. Sebuah survei terpisah dengan narasumber pimpinan bisnis yang dibuat PricewaterhouseCoopers juga mengemukakan prospek ekonomi yang suram tahun ini.

Baca Juga: Dolar Kembali Bangkit di Asia, Rupiah Anjlok Jadi Rp15.165 per Dolar AS
Rupiah Awal Pekan Paling Perkasa di Asia Jadi Rp15.045 per Dolar AS

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut pelaku pasar menanti pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pada Kamis pekan ini. Berdasarkan ekspektasi para analis, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, yang sebelumnya di 5,5 persen menjadi 5,75 persen. Dengan demikian, selisih suku bunga akan kembali melebar. Tetapi pasar juga menanti proyeksi suku bunga ke depannya, apakah BI akan menaikkan suku bunga hingga 6 persen atau 6,25 persen.

Dengan selisih suku bunga yang dipertahankan 125 basis poin, atau mungkin lebih lebar lagi, capital outflow bisa semakin deras masuk ke pasar obligasi Indonesia. Sejauh ini kebijakan BI sukses membuat investor asing kembali masuk ke pasar obligasi sekunder dalam dua bulan terakhir.