Mantab! Rupiah Jelang Libur Imlek Menguat Jadi Rp15.075 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah dan pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang asing Dolar Indo, Melawai, Jakarta, beberapa waktu lalu. Antarafoto/Rivan Awal Lingga/rwa/pri.

Editor: Yoyok - Jumat, 20 Januari 2023 | 18:30 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (20/1/2023) sore, ditutup menguat 29 poin atau 0,19 persen menjadi Rp15.075 dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.104 per dolar AS. 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah menjelang Tahun Baru Imlek terjadi di tengah indeks dolar AS menguat akibat komentar hawkish dari beberapa pejabat Federal Reserve serta meningkatnya kekhawatiran atas potensi resesi tahun ini. 

Beberapa pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa meskipun bank sentral kemungkinan akan memperlambat laju kenaikan suku bunga, biaya pinjaman kemungkinan akan tetap tinggi lebih lama. Tetapi kenaikan dolar terbatas karena banyak data minggu ini menunjukkan bahwa ekonomi AS melambat dalam menghadapi inflasi tinggi dan kebijakan moneter ketat. 

Selain itu, kebijakan bank sentral China, People's Bank of China yang mempertahankan suku bunga pinjaman acuan di posisi terendah selama lima bulan berturut-turut guna menopang pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan kekuatan yuan. 

Baca Juga: Mantab! Rupiah Jelang Libur Imlek Menguat Jadi Rp15.075 per Dolar AS
Rupiah Awal Pekan Naik Tipis di Tengah Kekhawatiran Resesi Ekonomi

Pasar sekarang menilai potensi resesi global tahun ini, terutama jika Fed terus menaikkan suku bunga. Skenario seperti itu, meski negatif untuk dolar, juga cenderung membebani mata uang Asia.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyebut investasi  diprakirakan akan membaik didorong oleh membaiknya prospek bisnis, meningkatnya aliran masuk Penanaman Modal Asing (PMA), serta berlanjutnya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN). Sedangkan ekspor diprakirakan tumbuh lebih rendah akibat melambatnya ekonomi global, meskipun akan termoderasi dengan permintaan dari Tiongkok.