Dolar AS Ngamuk di Asia, Rupiah Ditutup Anjlok Jadi Rp15.205 per Dolar AS

Ilustrasi - Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. Antara Foto/Puspa Perwitasari/aa.

Editor: Yoyok - Senin, 13 Februari 2023 | 18:30 WIB

Sariagri - Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot mengalahkan mayoritas mata uang di kawasan Asia pada perdagangan awal pekan ini. Bahkan, nilai tukar rupiah anjlok 71 poin atau 0,47 persen menjadi Rp15.205 per dolar AS pada penutupan transaksi Senin (13/2/2023).

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, yen Jepang anjlok 0,80 persen, dolar Hong Kong stagnan, dolar Singapura turun 0,13 persen, dolar Taiwan melemah 0,39 persen, won Korsel terkapar 1,10 persen.

Kemudian, peso Filipina anjlok 0,63 persen, rupee India melemah 0,26 persen, yuan China melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia anjlok 0,60 persen, dan baht Thailand melemah 0,36 persen.

Analis pasar keuangan dari PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan semua mata uang di Asia terhadap dolar AS karena investor semakin khawatir tentang laporan inflasi AS pekan ini, yang dapat menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan pasar di tengah data yang menunjukkan ekspektasi kenaikan harga yang berkelanjutan selama tahun depan, yang dapat mengundang lebih banyak pengetatan moneter oleh bank sentral AS, Federal Reserve.

“Karena data terus menunjukkan momentum positif AS, dolar berada pada kecepatan untuk kenaikan mingguan kedua terhadap sekeranjang enam mata uang, kenaikan yang belum pernah terlihat sejak Oktober,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, pasar terus memantau perkembangan pemulihan ekonomi Indonesia di tahun 2023. Salah satu kunci utama agar Indonesia dapat bertahan dari hantaman ketidakpastian global dan ancaman resesi adalah penguatan pasar domestik dan hilirisasi industri. IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 akan mencapai 3,4 persen dan tumbuh melambat menjadi 2,9 persen pada 2023. 

Baca Juga: Dolar AS Ngamuk di Asia, Rupiah Ditutup Anjlok Jadi Rp15.205 per Dolar AS
Mata Uang Asia Bervariasi, Rupiah Turun Tipis Jadi Rp15.096 per Dolar AS

Kemudian meningkat menjadi 3,1 persen pada 2024. Namun ancaman resesi global perlu diwaspadai. Pasalnya resesi global berpotensi menurunkan permintaan ekspor karena menurunnya permintaan global dan risiko kenaikan harga bahan baku impor.

Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah antisipasi dan terdapat beberapa sektor yang perlu diperkuat dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di 2023 salah satunya adalah sektor manufaktur. Selain itu, dalam jangka pendek, penguatan pasar domestik termasuk kemudahan produksi di dalam negeri menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini.