Rupiah Senin Sore Berakhir Melemah Jadi Rp14.836 per Dolar AS

Ilustrasi - Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Antarafoto/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa)

Editor: Yoyok - Senin, 20 Juni 2022 | 15:35 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada akhir transaksi hari ini, Senin (20/6) sore, melemah 11 poin atau 0,08 persen menjadi Rp14.836 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan akhir pekan lalu Rp14.825 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka d/h PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah disebabkan indeks dolar menguat. “Investor saat ini terus menilai prospek kebijakan moneter AS dan risiko resesi menyusul kenaikan suku bunga terbesar Federal Reserve sejak 1995,” ujarnya.

Selain itu, sejumlah bank sentral juga mengikuti kebijakan Fed yang menaikan bunga acuan sebagai antisipasi melonjaknya inflasi. “Namun, Ketua Fed Jerome Powell yang akan bersaksi di depan Senat dan DPR pada Rabu dan Kamis mendatang berjanji pekan lalu bahwa komitmennya untuk menjinakkan inflasi adalah tanpa syarat. Sementara itu, Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan pada hari Sabtu akan mendukung kenaikan lagi sebesar 75 basis poin pada bulan Juli,” kata Ibrahim.

Tak cuma itu, Presiden AS Joe Biden mengatakan pada i Sabtu bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk menaikkan beberapa tarif di China dan kemungkinan jeda pada pajak gas federal untuk melawan inflasi.

Baca Juga: Rupiah Senin Sore Berakhir Melemah Jadi Rp14.836 per Dolar AS
Rupiah Awal Pekan Ini Masih Akan Tertekan Sentimen The Fed

Terkait kebijakan sejumlah bank sentral, Ibrahim mengharapkan Bank Indonesia (BI) mewaspadainya karena dampaknya sudah terasa dari melemahnya mata uang rupiah. 

“Sebab, dengan kenaikan suku bunga tersebut maka arus modal asing kembali keluar dari pasar surat utang karena spread antara yield SBN dan yield treasury di tenor yang sama semakin menyempit. Investor asing cenderung mengalihkan dana ke negara maju, memicu capital outflow di emerging market,” pungkas Ibrahim.

Video Terkait