Rupiah Kembali Terpuruk, Investor Tunggu Paparan Fed di Kongres

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Rabu, 22 Juni 2022 | 15:35 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (22/6) sore, kembali ditutup menurun 50 poin atau 0,34 persen menjadi Rp14.863 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp14.813 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, mayoritas nilai tukar mata uang di kawasan Asia juga kalah melawan dolar AS, kecuali yen Jepang yang menguat 0,31 persen dan dolar Hong Kong yang stagnan. Sementara dolar Singapura anjlok 0,30 persen, dolar Taiwan tergerus 0,32 persen, krown Korea anjlok 0,32 persen, peso Filipina ambyar 0,41 persen, rupee India terkoreksi 0,24 persen, yuan China kalah 0,48 persen, ringgit Malaysia melemah 0,22 persen, dan baht Thailand ambyar 0,45 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka d/h PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan nilai tukar mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, karena indeks dolar AS menguat akibat investor menunggu isyarat kebijakan moneter AS saat Ketua Federal Reserve menjelaskan kepada Kongres.

“Ketua Fed Jerome Powell akan memaparkan kondisi moneter AS kepada Kongres dalam pertemuan selama dua hari sementara investor melihat lebih banyak petunjuk tentang apakah Fed akan memberikan kenaikan suku bunga lagi sebesar 75 basis poin,” ujar Ibrahim.

Baca Juga: Rupiah Kembali Terpuruk, Investor Tunggu Paparan Fed di Kongres
Akhir Pekan, Nilai Tukar Rupiah Kemungkinan Menguat

Diketahui, kebijakan moneter agresif dari The Fed telah memicu kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan ini tanda-tanda  AS sedang menuju resesi.

Sedangkan dari dalam negeri, Ibrahim menyatakan pelaku pasar khawatir tentang lonjakan kasus positif Covid-19. 

“Dalam enam hari terakhir, kasus positif secara berturut-turut berada di atas angka 1.000 kasus per hari. Meskipun angka kenaikan ini terbilang tidak tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan, tetapi kenaikan ini merupakan alarm yang perlu kita waspadai,” pungkas Ibrahim.

Video Terkait