BI Pertahankan Bunga Acuan, Rupiah Berakhir Menguat Jadi Rp14.840 per Dolar

Ilustrasi rupiah (Pexels)

Editor: Yoyok - Kamis, 23 Juni 2022 | 15:25 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada akhir perdagangan Kamis (23/6) sore ditutup menguat 22 poin atau 0,15 persen menjadi Rp14.840 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp14.862 per dolar AS.

Selain rupiah, hingga pukul 15.00 WIB, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga menang melawan dolar AS, seperti yen Jepang perkasa 0,60 persen, dolar Taiwan naik 0,02 persen, dan rupee India naik 0,05 persen.

Sedangkan dolar Singapura anjlok 0,32 persen, krown Korea melemah 0,28 persen, peso Filipina melemah 0,29 persen, yuan China turun 0,09 persen, ringgit Malaysia turun 0,02 persen, dan baht Thailand melemah 0,23 persen.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen.

Selain itu Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG BI Juni 2022 di Jakarta, Kamis, mengungkapkan suku bunga deposit facility juga tetap dipertahankan sebesar 2,75 persen dan suku bunga lending facility tetap sebesar 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah naiknya tekanan eksternal terkait dengan meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara," kata Gubernur BI.

Ke depan ia memperkirakan ketidakpastian ekonomi global masih akan tinggi seiring dengan semakin mengemukakannya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global, termasuk sebagai akibat dari makin meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan yang ditempuh oleh berbagai negara.

Untuk itu otoritas moneter terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran kebijakan seperti memperkuat kebijakan nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas dan mendukung pengendalian inflasi dengan tetap memperhatikan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya.

Langkah lainnya yakni dengan mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan meningkatkan efektivitas pelaksanaan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) dan operasi moneter rupiah, serta melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada komponen overhead SBDK.

Dilaporkan, dolar AS tetap di bawah tekanan di sesi Asia pada Kamis pagi, karena tampaknya akan memperpanjang penurunan terhadap mata uang utama lainnya untuk hari keempat, dirugikan oleh imbal hasil obligasi pemerintah yang berkubang di dekat posisi terendah dua minggu di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi.

Baca Juga: BI Pertahankan Bunga Acuan, Rupiah Berakhir Menguat Jadi Rp14.840 per Dolar
Rupiah Kembali Terpuruk, Investor Tunggu Paparan Fed di Kongres

Indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap enam rival utamanya, tergelincir 0,1 persen menjadi 104,12, membawa penurunan sejak Jumat (17/6/2022) menjadi 0,46 persen. Indeks dolar telah jatuh 1,56 persen dari puncak dua dekade 105,79 yang dicapai pada 15 Juni, ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin - kenaikan terbesar sejak 1994.

Pasar menjadi semakin khawatir bahwa komitmen Fed untuk memadamkan inflasi yang panas akan memacu resesi. Kekhawatiran itu mengirim imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun meluncur ke level terendah hampir dua minggu.

Video Terkait