Rupiah Selasa Sore Gagal Bertahan, Jadi Rp14.831 per Dolar AS

Ilustrasi: Lembaran dolar AS dan rupiah Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pri)

Editor: Yoyok - Selasa, 28 Juni 2022 | 15:35 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah gagal mempertahankan penguatan di pasar spot pada akhir transaksi Selasa (28/6) sore. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau 0,23 persen menjadi Rp14.831 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp14.797 per dolar AS.

Hingga pukul 15.00 WIB, yen Jepang juga melemah 0,26 persen, dolar Taiwan melemah 0,22 persen, dan rupee India anjlok 0,54 persen. Sedangkan dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dolar Singapura naik 0,01 persen, krown Korea menguat 0,21 persen, peso Filipina naik 0,08 persen, yuan China naik 0,06 persen, ringgit Malaysia menguat 0,16 persen, dan baht Thailand perkasa 0,73 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah karena terseret sentimen pasar atas peringatan Bank Indonesia (BI) untuk tetap waspada terhadap risiko stagflasi global yang masih akan membayangi perekonomian Indonesia ke depan, meskipun beberapa agensi yang datang ke Indonesia mengatakan percaya diri dengan kondisi Tanah Air. 

Saat ini, BI masih sangat concern terkait inflasi meskipun di 2022 ini inflasi bakal melewati batas atas BI di level 4 persen. Kendati demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi pada 2023 akan kembali pada kisaran BI, yaitu Kembali di range 3 persen plus minus 1 persen. 

“Namun, BI  terus mewaspadai tingkat inflasi ke depannya, terutama dari volatile food dan dampak terhadap ekspektasi inflasi. Dalam hal ini, BI akan menggunakan all out kebijakan yang mereka miliki termasuk penyesuaian suku bunga jika ada sinyal-sinyal kenaikan inflasi inti. Sedangkan pada saat ini inflasi inti masih dalam posisi 3,6 persen,” ujar Ibrahim.

Baca Juga: Rupiah Selasa Sore Gagal Bertahan, Jadi Rp14.831 per Dolar AS
Dolar Kalah di Asia, Rupiah Senin Sore Jadi Rp14.797 per Dolar AS

Selain itu, BI juga akan melakukan koordinasi erat dengan pemerintah, melalui tim pengendalian inflasi pusat dan daerah. Di lain sisi terkait nilai tukar, diperkirakan tekanan yang cukup tinggi terhadap nilai tukar di tahun ini  dan akan mereda di 2023. Kondisi ini didikung oleh fundamental Indonesia yang relatif lebih stabil.  Apalagi, cadangan devisa juga masih cukup kuat dan prospek perekonomian cukup kuat untuk ekonomi domestik. 

Ke depannya, BI akan memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar Rupiah. Ini sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan fundamental dari nilai tukar itu sendiri guna mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi.

Video Terkait