Nilai Tukar Rupiah Rabu Berpotensi Mengalami Tekanan Lagi

Ilustrasi - Pegawai menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta (Antarafoto/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa)

Editor: Yoyok - Rabu, 29 Juni 2022 | 09:45 WIB

Sariagri - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (29/6) pagi melemah 19 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp14.850 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.831 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan lagi terhadap dolar AS mengikuti pelemahan pada perdagangan kemarin.

“Isu resesi mengemuka di kalangan pelaku pasar yang mendorong pelaku pasar keluar dari aset berisiko. Dengan semakin banyaknya bank sentral dunia yang mengetatkan kebijakan moneternya, pasar mengkhawatirkan permintaan akan tertekan, pertumbuhan ekonomi melemah dan memicu resesi,” ujarnya.

Ariston menambahkan, selain itu sikap Bank Sentral AS yang masih akan menerapkan kebijakan agresif hingga inflasi AS terlihat turun, masih menjadi pertimbangan pasar untuk masuk ke dolar AS.

“Dari dalam negeri, ekspektasi inflasi yang meninggi karena kenaikan harga pangan bisa memperlemah rupiah,” pungkasnya.

Menurut Ariston, potensi pelemahan nilai tukar rupiah hari ini ke kisaran Rp14.860 per dolar AS dengan support di kisaran Rp14.800 per dolar AS.

Sementara itu, dolar AS menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena pelaku pasar melarikan diri dari aset-aset berisiko beralih ke mata uang safe-haven di tengah kekhawatiran atas pertumbuhan global, sementara euro turun karena pasar mengelola ekspektasi kenaikan suku bunga ECB.

Euro tersendat setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde tidak memberikan wawasan baru tentang prospek kebijakan bank sentral.

ECB secara luas diperkirakan akan mengikuti rekan-rekan globalnya dengan menaikkan suku bunga pada Juli untuk mencoba mengendalikan inflasi yang melonjak, meskipun para ekonom terpecah atas besarnya kenaikan suku bunga.

Euro bertahan di bawah 1,06 dolar setelah Lagarde mengatakan bank sentral akan bergerak secara bertahap tetapi dengan opsi untuk bertindak tegas pada setiap penurunan inflasi jangka menengah, terutama jika ada tanda-tanda penurunan ekspektasi inflasi. Euro terakhir melemah 0,6 persen menjadi 1,052 dolar.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya mencapai tertinggi dua dekade di 105,79 bulan ini, terakhir naik 0,51 persen pada 104,490.

"Jika ada tema keseluruhan, dolar masih lebih kuat selama periode ketidakpastian ini dan saya memperkirakan ketidakpastian akan berlanjut setidaknya selama musim panas sampai kita mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang seperti apa inflasi itu," kata Marvin Loh, ahli strategi makro global senior di State Street.

Presiden Bank Federal Reserve New York John Williams pada Selasa (28/6) dalam sebuah wawancara di CNBC mengatakan suku bunga "pasti" diperlukan antara 3,0 persen dan 3,5 persen pada akhir tahun ini, tetapi dia tidak mengantisipasi resesi AS.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Rabu Berpotensi Mengalami Tekanan Lagi
Rupiah Selasa Sore Gagal Bertahan, Jadi Rp14.831 per Dolar AS

Di tempat lain, yuan China di pasar luar negeri bergerak lebih tinggi setelah negara itu mengurangi karantina terkait pandemi COVID-19 untuk pelancong internasional.

Di pasar mata uang kripto, Bitcoin terakhir turun 2,96 persen menjadi 20.278,95 dolar AS. Bitcoin jatuh ke level 17.588,88 dolar AS awal bulan ini. Sementara itu, uang kripto Ethereum terakhir turun 3,52 persen menjadi 1.159,35 dolar AS.

Video Terkait